Sebentuk Cinta Kepada Anak – Anggada
Mei 15, 2010 at 10:27 am Tinggalkan komentar
Anggada, anak laki-laki berumur 11 tahun, bekerja sebagai buruh bangunan di proyek rumah depan rumahku. Ia anak putus sekolah. SD saja belum tamat. Pernah kutanya dia, kenapa tidak melanjutkan sekolah, dia jawab ia sudah bosan sekolah karena tidak naik kelas beberapa kali. “Mendingan cari uang,” kata Anggada sambil tersenyum.
Setiap kali memandang Anggada, aku seperti melihat ribuan anak putus sekolah di Indonesia. Alasan kemiskinan dan ketidakmampuan intelejensia menjadi alasan utama. Kemiskinan dan kebodohan, dua musuh yang sepertinya kian merajalela di negeriku tercinta ini, dan salah satunya, kebetulan ada di depan mataku. Anggada, anak lelaki kecil itu, dalam usianya yang dini telah mencicipi kerasnya dunia kerja. Dengan alasan kemiskinan, intelejensianya tidak berkembang karena kekurangan gizi. Seperti lingkaran setan saja.
Pendidikan hanya untuk orang kaya (mampu), mungkin itu benar adanya. Hanya orang mampu yang bisa beli susu bermutu untuk anak-anaknya (berisi AHA dan DHA), memberikan sarana dan prasarana memadai buat pendidikannya, dari sekolah di sekolah bilingual hingga biaya kursus ini itu yang seabrek-abrek. Sudah bukan rahasia lagi kalau biaya pendidikan sudah setinggi gunung. Dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi, biayanya gak tanggung-tanggung. Makanya, gak nyalahin, kalo yang miskin tetap jadi miskin dan kaya bertambah kaya.
Dana BOS, uang SPP gratis seperti yang dijanjikan para calon legislatif maupun eksekutif, sepertinya menguap entah ke mana. Kok tidak menyentuh orang-orang kecil seperti Anggada? Anak-anak kecil seperti Anggada sepertinya sudah menjadi pemandangan lumrah di mana-mana, malah di kota-kota besar, anak-anak yang lebih kecil dari Anggada dijadikan komoditas oleh orang tuanya maupun kelompoknya, dijadikan sebagai pengemis, penyemir sepatu, tukang ngamen, dll. Aduh, inikah akibat dari budaya kapitalisme yang telah merajai negeriku?
Terbersit suatu pemikiran dalam benakku, bagaimana nantinya generasi seperti Anggada melahirkan generasi berikutnya? Apakah generasi yang terlahir dari darah dagingnya juga akan mengikuti jejak orang tuanya? Bukannya pesimis dan sinis, tapi mungkin nasibnya tak jauh-jauh amat daripada orang tuanya. Namun, walahualam, semoga masih ada nasib mujur, semoga masih ada celah Anggada memperbaiki nasibnya di kemudian hari. Itulah mimpi yang masih tersisa untuk anak kecil itu, seorang Anggada.
Entry filed under: Budaya Bali. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed