Sebentuk Cinta Kepada Sahabat – Nostalgia Masa Lalu

Desember 16, 2008 at 4:34 am 2 komentar

Kudengar suaramu di telepon, mengusik ingatanku padamu. Sembilan belas tahun kita tak bertemu. Kau masih ingat padaku. Tak ada yang berubah pada suaramu. Apakah usia mengubah penampilanmu? Pastilah itu. Melanie, sahabat di masa kecilku.
Kubaca balasan imelmu. Kamu masih ingat diriku. Meski ruang dan waktu memisahkan kita. Meski kau sudah jauh terbang tinggi di langit biru, berada di negara Thailand, bersuamikan pria AS. Ika, sahabat dan partner diskusi yang mengasyikkan.
Di manakah lagi teman-teman kita? Di manakah Dek Ang..yang suka mejeng di depan cowok-cowok cakep? Di manakah Cyntia si penyanyi seriosa itu? Di manakah Teta, si cewek inceran para lelaki di sekolah kita? Di manakah Ratih, gadis Jawa nan lembut dan idola di sekolah kita? Di manakah Umi, gadis pemalu itu?
Usia dan kesibukan kota telah menelantarkan kita akan masa lalu. Kita adalah kaum urban yang jarang menengok kampung halaman. Kita adalah perempuan-perempuan pekerja yang tercerabut dari akar kita di kota kecil, Singaraja. Perempuan-perempuan yang tidak diikat oleh adat, supaya ingat pulang. Perempuan-perempuan yang merenda masa depan dan tak sempat membuka album masa lalu.
Aku telah menjadi perempuan tambun. Mel apakah masih semontok dulu? Ika, entah, apakah masih jago menari seperti dulu? Teta, masih segenit dulu?
Waktu telah merubah kita. Usia menggorogoti ingatan kita akan masa lalu. Masa kanak-kanak yang riang. Saat kita sibuk bermain bekel, congklak, atau main loncat pintil kala istirahat. Saat kita kemping, tamasya, belajar bersama sambil rujakan, main kasti, petak umpet, naik motor rame-rame keliling kota. Aku rindu itu.
Sering potret-potret masa lalu kita muncul dalam mimpiku, Kawan. Bagaimana mungkin aku lupakan kalian. Dari TK hingga SMP kita bersama satu kelas. Bagaimana mungkin aku cerabut masa lalu yang indah itu dari ingatanku? Masa-masa indah yang tak akan tergantikan oleh apapun.
Sering kumembatin setiap kali ke mall. Berharap mendapat kejutan menyenangkan. Bertemu salah satu dari kalian di eskalator. Atau sekedar ber-say hello di suatu tempat umum. Tapi kalian seperti lenyap ditelan bumi. Bahkan, tanah Bali yang sempit ini pun tak bisa mempertemukan kita.
Aku rindu aroma garam di sudut kecil pantai Buleleng. Tempat kita beristirahat, melepas lelah setelah jogging sekeliling kota. Aku kangen makan ketupat belayag, makanan pagi ransum kita seusai jogging. Sesak ingatanku akan buah pikiran Ika dan Cyntia, yang kukunyah sambil kita duduk di tepi pantai.
Ah, masa-masa itu. Tak akan kembali lagi. Tapi akan terpatri abadi di sini, dalam ingatanku. Aku merindumu, Kawan-kawanku.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Sebentuk Cinta Kepada Boga – Kurindu Aroma Pagi Sebentuk Cinta Kepada Ibu-Hari Ibu

2 Komentar Add your own

  • 1. ika  |  Desember 28, 2008 pukul 12:02 pm

    Hi O’ok, Thanks for recalling our childhood’s memories. I really hope I can meet all of my long lost friends, terutama dirimu, Ok!

  • 2. Bunda Echa  |  Desember 30, 2008 pukul 1:46 am

    Ika,
    I always remember our beautiful childhood. Sometimes, it comes to my dream. Hope we can meet with our friends together. Miss you a lot…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tulisan Terkini

Blog Stats

  • 1,385 hits

Tulisan Teratas

  • Tidak ada
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.