Sebentuk Cinta Kepada Anak – Anggada

Anggada, anak laki-laki berumur 11 tahun, bekerja sebagai buruh bangunan di proyek rumah depan rumahku. Ia anak putus sekolah. SD saja belum tamat. Pernah kutanya dia, kenapa tidak melanjutkan sekolah, dia jawab ia sudah bosan sekolah karena tidak naik kelas beberapa kali. “Mendingan cari uang,” kata Anggada sambil tersenyum.
Setiap kali memandang Anggada, aku seperti melihat ribuan anak putus sekolah di Indonesia. Alasan kemiskinan dan ketidakmampuan intelejensia menjadi alasan utama. Kemiskinan dan kebodohan, dua musuh yang sepertinya kian merajalela di negeriku tercinta ini, dan salah satunya, kebetulan ada di depan mataku. Anggada, anak lelaki kecil itu, dalam usianya yang dini telah mencicipi kerasnya dunia kerja. Dengan alasan kemiskinan, intelejensianya tidak berkembang karena kekurangan gizi. Seperti lingkaran setan saja.
Pendidikan hanya untuk orang kaya (mampu), mungkin itu benar adanya. Hanya orang mampu yang bisa beli susu bermutu untuk anak-anaknya (berisi AHA dan DHA), memberikan sarana dan prasarana memadai buat pendidikannya, dari sekolah di sekolah bilingual hingga biaya kursus ini itu yang seabrek-abrek. Sudah bukan rahasia lagi kalau biaya pendidikan sudah setinggi gunung. Dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi, biayanya gak tanggung-tanggung. Makanya, gak nyalahin, kalo yang miskin tetap jadi miskin dan kaya bertambah kaya.
Dana BOS, uang SPP gratis seperti yang dijanjikan para calon legislatif maupun eksekutif, sepertinya menguap entah ke mana. Kok tidak menyentuh orang-orang kecil seperti Anggada? Anak-anak kecil seperti Anggada sepertinya sudah menjadi pemandangan lumrah di mana-mana, malah di kota-kota besar, anak-anak yang lebih kecil dari Anggada dijadikan komoditas oleh orang tuanya maupun kelompoknya, dijadikan sebagai pengemis, penyemir sepatu, tukang ngamen, dll. Aduh, inikah akibat dari budaya kapitalisme yang telah merajai negeriku?
Terbersit suatu pemikiran dalam benakku, bagaimana nantinya generasi seperti Anggada melahirkan generasi berikutnya? Apakah generasi yang terlahir dari darah dagingnya juga akan mengikuti jejak orang tuanya? Bukannya pesimis dan sinis, tapi mungkin nasibnya tak jauh-jauh amat daripada orang tuanya. Namun, walahualam, semoga masih ada nasib mujur, semoga masih ada celah Anggada memperbaiki nasibnya di kemudian hari. Itulah mimpi yang masih tersisa untuk anak kecil itu, seorang Anggada.

Mei 15, 2010 at 10:27 am Tinggalkan Komentar

Cowboy in Paradise

Pemuda bertato, papan selancar, rambut gading dan gimbal, kini jadi perbincangan. Terlepas film dokumenter itu berkata jujur atau semu, kepala seketika berkerut….beginikah lembar hitam yang tertutup papan selancar kemegahan pariwisata?

Mei 2, 2010 at 2:12 pm Tinggalkan Komentar

Ketika Aku Tak Perlu Berebut Lagi….

Terkenangku kan masa kanak-kanak. Berebut sayur undis dengan lima saudara. Cukup kuahnya saja diaduk nasi tanpa lauk, bisa membuatku menambah hingga tiga piring. Kini, ketika aku telah mampu membeli sepanci sayur undis, tak ada lagi yang kuajak berebut. Aku tak selera menambah hingga tiga piring, meski berpuluh-puluh butir undis menunggu layu….

Mei 1, 2010 at 10:06 am Tinggalkan Komentar

Sayur Undis

Sayur Undis, sayur sejenis kacang berwarna hitam, sangat populer di Singaraja (Bali Utara). Saking populer dan langkanya, sayur ini tergolong “sayur mewah” dibanding dengan sayur-sayuran lainnya. Satu kilo kacang undis mentah yang masih berkulit dihargai Rp 12,000 per kilo, sedangkan yang sudah dikupas lebih mahal lagi, bisa sampai Rp 16,000 per kilonya.
Bumbu sayur undis sangat sederhana, yaitu : bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam, dan terasi ditambah dengan lengkuas dikeprak. Kuahnya berwarna hitam akibat kena lunturan si kacang yang rasanya empuk dan gurih ini.
Sayur undis paling enak disantap dengan ikan asin (sudang lepet) Singaraja, sambal tomat, daging sapi sisit dan tempe goreng.
Tidak semua orang Bali menjadikannya sayur favorit, mungkin kalah kepopulerannya dengan sayur nangka. Sayur ini menjadi primadona, khususnya di Singaraja dan Klungkung.
Kalau ke Singaraja, jangan lupa mencicipi sayur undis. Tapi jangan kecewa ya kalau tidak mendapatkannya…namanya juga sayur langka!

Mei 1, 2010 at 10:02 am 1 komentar

Tenaga Kerja Lokal vs Non-Lokal

Bali dibanjiri tenaga kerja non-lokal (baca : tenaga kerja non suku Bali dan expatriate), tentu bukan hal yang aneh. Perputaran ekonomi akibat keberadaan industri pariwisata menarik minat tenaga kerja di seluruh dunia untuk mengais rezeki di Bali. Fenomena ini kerap memunculkan sentimen kesukuan maupun ras di kalangan tenaga kerja, terutama yang bergerak di sektor industri pariwisata. Ini tentu karena tenaga-tenaga non-lokal banyak diantaranya memegang posisi penting di perusahaan yang nota bene berpenghasilan lebih daripada tenaga kerja lokal (baca : tenaga kerja asli Bali) yang kebanyakan menduduki posisi pekerja tingkat pelaksana dengan kesejahteraan lebih rendah, bahkan, tak jarang berada di bawah garis UMP (upah minimum propinsi). Sehingga terkadang, munculah rasa ekslusivitas kedaerahan yang tentunya menimbulkan masalah-masalah sosial baru di perusahaan.
Meskipun secara umum, masyarakat Bali sangat terbuka terhadap pendatang dan belum mempermasalahkan hal ini secara formal, namun perlu kiranya masalah kecemburuan sosial ini disikapi secara arif oleh semua pihak. Terutama dari pihak masyarakat Bali sendiri untuk memacu kemampuan diri agar bisa berada sejajar dengan tenaga-tenaga kerja non-lokal. Apabila tidak dari sekarang berbenah diri, bisa jadi tenaga-tenaga kerja Bali tidak menjadi tuan rumah di pulaunya sendiri, atau malah, terpinggirkan seperti masyarakat Betawi di Jakarta.
Sebenarnya, apa saja kelebihan dan kekurangan tenaga kerja Bali dibanding tenaga kerja non-lokal? Mengapa tenaga kerja non-lokal lebih diterima di posisi atas dibanding tenaga kerja lokal? Hal-hal apa saja yang perlu ditingkatkan dari tenaga kerja lokal untuk berkompetisi di pasaran kerja? Untuk mempersempit ruang lingkup bahasan. dalam tulisan ini fokusnya adalah industri pariwisata, untuk sektor-sektor lain tidak dibahas.
Tenaga-tenaga kerja Bali sebenarnya merupakan “produk unggul” yang memiliki daya saing yang baik di dunia pariwisata. Ini bisa dilihat dari banyaknya permintaan tenaga kerja dari Bali untuk mengisi kekosongan di industri pariwisata di luar negeri, seperti : kapal pesiar, kantong-kantong pariwisata dunia, seperti : Thailand, Maldives, negara-negara Arab, Karibia, dsb. Kelebihan-kelebihannya antara lain :
- Jujur
- Rajin
- Mau bekerja keras
- Tidak banyak menentang atasan
- Memiliki jiwa keramah-tamahan yang tinggi
- Cepat dan mudah memahami hal-hal baru
- Memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar pariwisata
Namun sayangnya, kelebihan-kelebihan ini belum cukup diimbangi dengan mental kepemimpinan dan wirausaha (enterpreneurship) untuk meraih posisi-posisi menengah maupun puncak. Kelemahan-kelemahan yang umum dimiliki oleh tenaga kerja lokal, antara lain :
- Memiliki toleransi tinggi terhadap kesalahan (padahal, untuk level manajer, dibutuhkan mental “kesempurnaan” dan minimalisasi kesalahan);
- Tidak berani berterusterang;
- Lebih merasa nyaman jadi pekerja daripada pimpinan;
- Cepat berpuas diri dengan posisi pekerja;
- Cenderung enggan mempelajari hal-hal baru;
Jika semua tenaga-tenaga lokal berkemauan keras untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya, pastilah tenaga kerja Bali mampu bersaing dengan tenaga kerja luar, dan bukan tidak mungkin, suatu saat kelak Bali akan menjadi “majikan” di pulaunya sendiri.

Agustus 19, 2009 at 2:56 am 2 komentar

Sebentuk Cinta Kepaada Budaya – Rerahinan Saraswati

saraswati

Rerahinan (Hari Raya) Saraswati awal tahun ini jatuh pada Hari Sabtu, 3 Januari 2009, atau Saniscara Umanis Watugunung. Hari Saraswati adalah hari untuk memuliakan Dewi Saraswati, istri dari Dewa Brahma. Dalam mitos Hindu, disebutkan bahwa Dewi Saraswati adalah dewi cantik bertangan empat. Seorang dewi yang cantik merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan itu menarik. Keempat tangannya memegang alat-alat yang menyimbolkan keagungan dan daya tarik ilmu pengetahuan.
Pada Hari Raya Saraswati, murid-murid sekolah beragama Hindu berkumpul di tempat persembahyangan di sekolah untuk melakukan doa bersama. Di rumah-rumah, setiap keluarga menghaturkan sesajen khusus Saraswati di seluruh tempat pemujaan, dan tentu saja di atas buku-buku yang dianggap mewakili ilmu pengetahuan.
Ada mitos menarik sehubungan dengan Hari Raya Saraswati, yaitu : pelarangan membaca bagi umat Hindu di hari ini. Namun mitos ini hanyalah sekedar mitos karena tidak terlalu diterapkan dalam budaya Bali. Mungkin maksud dari mitos ini adalah agar semua umat Hindu khusuk mengontrol kesucian pikirannya dan tidak membaca hal-hal yang bisa merusak kesucian itu. Memang, pada Hari Raya Saraswati seluruh umat dihimbau untuk membaca kitab-kitab suci.
Pada akhirnya, makna Hari Raya Saraswati adalah mengajak umat Hindu memuliakan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diyakini sebagai salah satu cara untuk mencerahkan pikiran, mengangkat budi pekerti umat ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam kitab Bhagawadgita disebutkan bahwa,”Bersihkan tubuhmu dengan air, bersihkan pikiranmu dengan ilmu pengetahuan.” Oleh karena itu, ilmu pengetahuan sangat penting keberadaannya dan patut dimuliakan.

Januari 3, 2009 at 4:12 am Tinggalkan Komentar

Sebentuk Cinta Kepada Hidup – Aroma Tahun Baru

Ingin kuhirup udara terbaik di pagi hari, di tahun baru, meski kutahu hanya penanggalan yang berganti dan usia yang kian merambah. Tapi aku ingin menyemai harap, seperti berjuta umat di permukaan bumi. Melihat ke depan dengan penuh optimisme dan gairah.
Bau tahun baru, adalah bau semangat. Bertebaran di mana-mana. Perayaan di seluruh tempat. Pesta. Kegembiraan. Kebahagiaan. Rezeki berhamburan di tempat-tempat hiburan. Sumringah tawa bergema di seluruh penjuru dunia.
Aroma tahun baru, selalu lezat dan empuk di seluruh permukaan bumi. Dari kepala hingga ke ujung kaki. Aroma menyegarkan. Aroma menggairahkan. Geliat hidup. Peremajaan sel-sel optimisme. Jiwa muda kembali tertanam. Jiwa yang riang. Jiwa yang mencerahkan.
Asap tahun baru, adalah asap yang menyehatkan. Asap terbaik yang mengisi paru-paru. Asap yang mengepul dari mata yang berbinar cemerlang. Asap yang berasal dari tungku kayu kopi berbau gurih pesan.
Kututup tahun ini dengan berpuluh kenangan, berbagai ingatan, belasan kilo byte pengalaman. Sel-sel tubuhku kian menua, setua juga pikiranku. Tapi jiwa ini masih terbelenggu oleh banyak ketidaktahuan serta ketidakmengertian. Masih banyak hutang menumpuk, belum kulunasi. Hutang duniawi dan hutang surgawi. Janji-janji yang belum terpenuhi, Komitmen-komitmen yang masih berupa angan-angan.
Tapi tahun baru ini, kupadati dengan taburan rempah-rempah optimisme. Kucampur dengan kaldu semangat terbaik. Kutambahkan dengan sayur-mayur, kacang polong serta potongan daging harapan baru. Anganku ingin menciptakan aroma spiritual, yang berhembus kepada-Nya. Diasapi dengan bau kepasrahan. Dipanasi dengan bara semangat keiklasan. Karena dari cinta-Nya, akan kembali pada cinta-Nya. Maka aroma tahun baru ini, akan kuberikan kepada-Nya, sebagai wujud cintaku. Dan anugerah-Nya yang agung, berujud keluarga kecilku, suamiku tercinta, anak-anakku terkasih, akan kupelihara dengan sebaik-baiknya. Hanya karena Dia, aku akan kembalikan kepada-Nya.

SELAMAT TAHUN BARU!

butterfly13

Desember 31, 2008 at 3:00 am Tinggalkan Komentar

Sebentuk Cinta Kepada Hidup – Lonelines is Immortal

Sebab aku terlahir sendiri
Maka aku pun akan menghadap-Nya sendiri

Meski kusadari itu
Kutakut menghadapi kesendirian
Kucemas menjalani kesunyian
Kukhawatir merambati kesepian

Keramaian membuatku merasa aman
Berkeluarga membuatku nyaman
Bersenda-gurau, berbagi dengan suami dan anak-anak adalah menyenangkan
Maka tak heran kesendirian adalah menakutkan

Namun hanya kesendirianlah yang abadi
Karena tak ada sesiapa pun
Yang mengantar kita ke haribaan-Nya
Hanya budi baik dan karma kita
Yang akan menjadi teman di sepanjang usia

Meski kusadari semua itu
Tapi aku masih takut sendiri
Karena kesendirian itu immortal
Maka ketakutanku pun immortal

Desember 27, 2008 at 3:45 am Tinggalkan Komentar

Sebentuk Cinta Kepada Ibu-Hari Ibu

Bintang berpendar di gelapnya malam
mengingatkanku akan dirimu
kau cahaya yang tak pernah pudar
di langit hatiku yang temaram

Meski pernah kurasa kau sebagai sesosok asing
karena jarimu yang jarang mengelus rambutku
Meski pernah sekelebat terbit rasa ragu
karena getar jantungmu tak terbenam dalam ingatanku

Tapi kau adalah perempuan yang mengandungku
aku tau, kau cinta aku
tanpa terkata, tanpa terucap
Kau perempuan yang mengasihiku
meski air matamu kerap membasahi lenganku
karena aku tidak seperti harapanmu

Aku berterima kasih
pada hidup yang telah kautitipkan pada darah dan dagingku
Aku bersyukur
pada didikanmu yang tak terucap dari bibirmu
Aku bersembah padamu
meski kau tak inginkan itu

Aku tak akan bisa menukar
air susumu dengan air apa pun
Aku tak akan bisa membayar
peluh, darah dan air matamu dalam membesarkanku

Ibu
terima kasih telah memberiku hidup

Desember 22, 2008 at 12:14 pm Tinggalkan Komentar

Sebentuk Cinta Kepada Sahabat – Nostalgia Masa Lalu

Kudengar suaramu di telepon, mengusik ingatanku padamu. Sembilan belas tahun kita tak bertemu. Kau masih ingat padaku. Tak ada yang berubah pada suaramu. Apakah usia mengubah penampilanmu? Pastilah itu. Melanie, sahabat di masa kecilku.
Kubaca balasan imelmu. Kamu masih ingat diriku. Meski ruang dan waktu memisahkan kita. Meski kau sudah jauh terbang tinggi di langit biru, berada di negara Thailand, bersuamikan pria AS. Ika, sahabat dan partner diskusi yang mengasyikkan.
Di manakah lagi teman-teman kita? Di manakah Dek Ang..yang suka mejeng di depan cowok-cowok cakep? Di manakah Cyntia si penyanyi seriosa itu? Di manakah Teta, si cewek inceran para lelaki di sekolah kita? Di manakah Ratih, gadis Jawa nan lembut dan idola di sekolah kita? Di manakah Umi, gadis pemalu itu?
Usia dan kesibukan kota telah menelantarkan kita akan masa lalu. Kita adalah kaum urban yang jarang menengok kampung halaman. Kita adalah perempuan-perempuan pekerja yang tercerabut dari akar kita di kota kecil, Singaraja. Perempuan-perempuan yang tidak diikat oleh adat, supaya ingat pulang. Perempuan-perempuan yang merenda masa depan dan tak sempat membuka album masa lalu.
Aku telah menjadi perempuan tambun. Mel apakah masih semontok dulu? Ika, entah, apakah masih jago menari seperti dulu? Teta, masih segenit dulu?
Waktu telah merubah kita. Usia menggorogoti ingatan kita akan masa lalu. Masa kanak-kanak yang riang. Saat kita sibuk bermain bekel, congklak, atau main loncat pintil kala istirahat. Saat kita kemping, tamasya, belajar bersama sambil rujakan, main kasti, petak umpet, naik motor rame-rame keliling kota. Aku rindu itu.
Sering potret-potret masa lalu kita muncul dalam mimpiku, Kawan. Bagaimana mungkin aku lupakan kalian. Dari TK hingga SMP kita bersama satu kelas. Bagaimana mungkin aku cerabut masa lalu yang indah itu dari ingatanku? Masa-masa indah yang tak akan tergantikan oleh apapun.
Sering kumembatin setiap kali ke mall. Berharap mendapat kejutan menyenangkan. Bertemu salah satu dari kalian di eskalator. Atau sekedar ber-say hello di suatu tempat umum. Tapi kalian seperti lenyap ditelan bumi. Bahkan, tanah Bali yang sempit ini pun tak bisa mempertemukan kita.
Aku rindu aroma garam di sudut kecil pantai Buleleng. Tempat kita beristirahat, melepas lelah setelah jogging sekeliling kota. Aku kangen makan ketupat belayag, makanan pagi ransum kita seusai jogging. Sesak ingatanku akan buah pikiran Ika dan Cyntia, yang kukunyah sambil kita duduk di tepi pantai.
Ah, masa-masa itu. Tak akan kembali lagi. Tapi akan terpatri abadi di sini, dalam ingatanku. Aku merindumu, Kawan-kawanku.

Desember 16, 2008 at 4:34 am 2 komentar

Tulisan Lebih Lama


 

Juni 2012
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tulisan Terkini

Blog Stats

  • 1,451 hits

Tulisan Teratas

  • Tidak ada
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.